Libatkanlah Allah dalam setiap langkah kita untuk mengarungi kehidupan yang fana ini.

Hanya hamba Allah yang selalu berserah. Hanya hamba Allah yang selalu berpasrah. Karena segalanya bergantung pada-Nya.
Hanya pada dia semua bermuara..

Kamis, 27 September 2012

Akhlak Nabi SAW



Ciri Khas Akhlak Nabi Saw

Tiada sifat yang lebih besar nilainya di antara semua sifat yang dimiliki Rasulullah daripada akhlak beliau. Dengan sifat inilah Allah memuji Nabi dalam firman-Nya :
انك لعلي خلق عظيم
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS: al-Qalam 4)
Rasulullah saw pun bersabda:
انما بعثت لاتمم صالح الا خلاق
“Aku diutus untuk menghidupkan akhlak yang mulia (makârimul akhlâq).”

Dalam perbincangan muslimin jika disinggung tentang Rasulullah, bagi mereka akhlak adalah dakwah terpentingnya, dan beliau menyerukannya. Mafruq Nami ketika masuk Islam ia memahami apa yang diserukan oleh Rasulullah. Kepada beliau ia berkata: “Hai saudara Quraisyku! Engkau menyeru umat kepada akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik.”

Rasulullah dalam madrasahnya lebih menekankan pada akhlak dan beliau mengatakan: “Allah Maha pemurah!” Beliau menyukai kemuliaan dan nilai-nilai moral dan membenci perbuatan-perbuatan yang rendah dan keji. Di kesempatan lain beliau bersabda: “Pada hari kiamat, perkara terberat dalam timbangan orang mukmin adalah akhlak yang baik.” Dan: “Sebaik-baik sahabatku di antara kalian adalah yang sangat mencintai masyarakat.."

Dalam kitab-kitab banyak tema tentang akhlak Nabi terhadap keluarga dan umat beliau. Di sini kami akan menyinggung sebagiannya dan beberapa metode tarbiyah beliau berikut penjelasan kandungannya, dalam pendidikan Islam.

Menindak Penyimpangan Kesucian
Salah satu aspek penting sejarah kehidupan Nabi saw ialah penjagaan ketat pada undang-undang samawi. Rasulullah adalah pengikut al-Qur`an dan tidak pernah melangkah di luar undang-undang Qur`ani. Dalam rangka inilah upaya Nabi, jangan sampai terjebak pada ifrâth dan tafrîth (hal melampaui batas dan kelalaian), sebagaimana yang diperintahkan Allah kepadanya. Ia melangkah secara konsisten.
و استقم كما امرت
dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu” (QS: Syura 15)
Jalan itulah yang berlaku di tengah umat.
Nabi berusaha keras untuk dapat mengajarkan dan menjelaskan hukum-hukum agama kepada umat. Dalam hal ini, prinsip yang pokok ialah memahamkan kepada umat bahwa mereka harus menerima agama dari Allah dan Rasul-Nya, dan mengetahui halal dan haram berdasarkan al-Qur`an. Di dalam al-Qur`an terdapat beberapa teguran keras terhadap kaum Yahudi yang mengharamkan sebagian yang halal tanpa alasan.
Sebagaiman al-Qur`an, Rasulullah dan para imam membenci watak ketidak pedulian itu, mereka pun tidak menyukai kerahiban yang disebabkan kelemahan daya rasional dan berpegang pada hal-hal yang tampak di permukaan.
Dalam hadis diterangkan bahwa Nabi saw melarang muslimin berpuasa dalam safar. Tetapi sebagian orang tetap saja berpuasa mengikuti kezuhudan yang menyimpang. Nabi marah atas tindakan mereka ini. Beliau yang sedang di atas onta mengambil girbah air seraya berkata: “Berbukalah (makan dan minumlah) hai orang-orang yang berdosa!.” (Tahdzib al-Atsar, Musnad Ibn Abbad, juz 1, hal 92)
Nabi saw tidak akan menghalalkan dan mengharamkan sesuatu tanpa seizin Allah, terrmasuk sesuatu yang secara pribadi tidak beliau sukai sekalipun. Misal mengenai bawang, Nabi berkata: “Siapa yang makan bawang jangan di dekatku!”, pada saat yang sama beliau bersabda: “Aku tidak mengharamkannya. Sebab aku tidak diperkenankan oleh Allah mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Melainkan aku hanya tidak menyukai baunya.”
Memperhatikan halal dan haram dari Allah merupakan prinsip yang diajarkan Nabi kepada umatnya dan beliau menekankannya. Perkara ini berulang-ulang disampaikan oleh al-Qur`an bahwa ini adalah undang-undang Allah, dan siapa saja tidak diperkenankan melampauinya.
Jadi, al-Qur`an dan hadis harus dipahami secara dalam. Hal melihat yang tampak di permukaan akan menjebak manusia pada kesalahpahaman. Mengutip sebuah riwayat berkenaan dengan hal ini; Imam Husein as enggan buka mulut soal rahasia masalah Shiffin kepada Abdullah yang sama seperti ayahnya, Amr bin Ash, yang berperang melawan Imam Ali as di Shiffin. Kemudian Abu Said di Madinah menjadi penengah di antara mereka agar mereka berdamai. Imam mencela Abdullah ketika berbicara kepadanya: “Kau mengetahui bahwa aku di sisi para penghuni langit adalah sebaik-baik penghuni bumi” sebagaimana hadis yang dinukil dari Nabi saw. Lalu kenapa kau hadir di Shiifin dan berperang melawan ayahku yang lebih dari aku?”
Putra Amr bin Ash menjawab, “Di masa Nabi (saw) aku hidup zuhud dan aku jalani hidup yang susah. Siang hari aku berpuasa dan malam hari aku bangun beribadah. Ayahku mengadu kepada Rasulullah tentang amalanku yang berlebihan itu. Lalu beliau berkata kepadaku: “Patuhlah pada ayahmu!”. Ketika ayah pergi ke Shiffin, aku pun mematuhinya”
Imam Husein berkata, “Ini tidak sesuai dengan (sabda Nabi):
لاطاعة لمخلوق في معصية الخالق
“Tiada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”, dan tidak pula sesuai dengan ayat:
و ان جاهداك انتشرك بي فلا تطعهما
Jika kedua orantuamu mengajakmu pada kesyirikan, maka janganlah kamu mematuhi keduanya.”
Inilah bukti kekeliruan Abdullah bin Amr bin Ash dalam memahami hadis Nabi saw di antaranya perintah beliau kepadanya agar mentaati ayahnya, dan ia telah mengikuti pandangan lahiriah semata.


Kebersihan, Keharuman dan Sebagainya
Nabi saw menjalani kehidupan sosial dan individualnya dengan sederhana dan sebaik-baik pola hidup. Ia mengenakan pakaian putih, memakai wewangian, menyisir rambut dan menyiwak giginya secara rutin.
Bagi beliau memakai wewangian adalah sebuah prinsip. Dalam hadis diterangkan bahwa di rumah Nabi, ada satu tempat yang biasa beliau di situ selalu memakai wewangian.
Dalam riwayat lain, Nabi saw bersabda: “Di dunia ini aku sangat menyukai wewangian dan salat.”, kemudian mengenai salat beliau bersabda: “Pelipur laraku terletak pada salat.”
Seorang perawi hadis menyampaikan: “Ketika itu aku masih kanak-kanak, kami mendatangi Rasulullah saw, beliau mengusap kepala kami. Di saat tangan beliau mengusap kepalaku, aku mencium bau harum yang tidak kulupakan hingga sekarang. Sedemikian harumnya sampai seakan-akan aku berada di samping toko parfum.”
Nabi pun tidak pernah menolak pemberian parfum dari orang lain. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah saw dikenali dengan aroma yang wangi.
Nabi menghindari makan sesuatu berbau yang mengganggu orang lain. Terutama bawang dan alasan yang beliau lontarkan: “Aku tidak menyukainya lantaran baunya.”
Mewarnai rambut juga dilakukan oleh Nabi. Beliau juga menganjurkan kaum wanita agar mereka mewarnai rambut mereka. Jika mereka bersuami, maka mereka melakukannya untuk suami. Bagi yang belum bersuami, maka mereka melakukannya supaya lebih diminati oleh kaum laki untuk meminang mereka.
Adalah sebuah kekeliruan opini masyarakat bahwa kalau bukan orang kaya hendaknya tidak melakukan hal-hal semacam itu. Nabi sendiri menjalani hidup sederhana; siang hari duduk di atas tikar yang sama sebagai alas untuk salat-salat beliau di malam hari. Beliau berinteraksi dengan masyarakat dan melayani tamu-tamunya. Pola makan beliau pun cukup sederhana; duduk di tanah dan makan di atas tanah. Diterangkan dalam riwayat bahwa di masa hidup Rasulullah, Ahlulbaitnya lapar dalam tiga hari berturut-turut.
Nabi Seorang Humoris
Nabi saw adalah seorang humoris. Tak pernah terlihat beliau bermuka masam dan naik darah. Dalam hadis diterangkan bahwa Nabi suka bercanda. Namun keceriaan ini tidak berarti sampai terbahak-bahak, tetapi beliau itu murah senyum. Diriwayatkan; “Aku tidak pernah melihat Nabi tertawa kecuali tersenyum.
Selain watak humoris yang tampak pada dirinya, beliau pun bersikap ramah dan lembut terhadap umatnya. Nabi juga memberi kesempatan orang lain bercanda, sebagaimana riwayat; seorang Arab badui membawa hadiah untuknya. Setelah beliau memanfaatkannya, orang itu datang dan menagih uangnya: “Mana uang hadiah kami!”
Setelah itu bila Nabi merasa gundah, beliau mengatakan: “Kemana si badui itu, yang telah membuat sirna rasa gundah kita.”
Sudah pasti Nabi tidak suka dengan canda yang bukan tempatnya. Salah satu humoris masa itu adalah Abdullah bin Hudzafah. Rasulullah mengangkat dia sebagai pimpinan sebuah sariah (peperangan yang tidak diserati Nabi). Ia memerintahkan pasukannya agar menyalakan api, kemudian mengatakan: “Kalian semua lompatlah ke dalam api!”
Mereka berkata, “Kami mengimani Nabi supaya kami terhindar dari api!.”
Dalam riwayat lain, mereka ingin menceburkan dia ke dalam api, lalu ia menolak sembari berkata: “Aku cuma bercanda!”.
Setelah mereka kembali dan menemui Nabi, mereka menceritakan itu kepadanya dan beliau mendukung mereka seraya bersabda: “Tiada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”
Kedatangan Rasulullah saw dari perang Badar disambut oleh umat. Ketika itu Salamah bin Salamah yang telah membuat Nabi marah dikarenakan canda yang tidak tepat, berkata kepada orang-orang: “Ini bukan untuk ucapan selamat, karena kita telah membunuh sekelompok usia lanjut dan berkepala botak”
Rasulullah tersenyum dengan ucapannya itu dan berkata: “Mereka adalah orang-orang Quraisy! Melihat mereka saja orang bisa takut. Sekiranya mereka memberi perintah, kalian dengan terpaksa akan patuh.”
Saat itu Salamah mengambil kesempatan untuk bertanya mengapa Rasulullah marah. Beliau menjawab: “Ketika kami sampai di Ruha` menuju Badar, seorang Arab badui datang dan bertanya, “Jika kamu seorang nabi, jawablah pertanyaanku, “Akan melahirkan apa ontaku yang hamil itu?”
Aku jawab,) “Kamu bilang, kamu sendiri telah berjimak dengannya sampai ia hamil gara-gara kamu!” Artinya bahwa kamu (hai Salamah) telah bertindak buruk!”
Salamah meminta maaf kepada Rasulullah dan beliau memaafkannya.
Ibadah Nabi
Ibadah Nabi adalah pengucualian. Salat tahajud baginya secara pribadi adalah wajib. Allah menghendaki beliau agar melaksanakan salat di waktu tengah malam atau kurang sedikit dari itu.
نِصْفه اوانقص منه الا قليلا[1]
Dalam al-Qur`an surat Muzammil ayat 20, Allah berfirman:
ان ربك يعلم أنك تقومادني من ثلثي الليل و نصفه و ثلثه و طائفة من الذين معك
Sesungguhnya Tuhan-mu mengetahui bahwasanya kamu dan segolongan dari orang-orang yang bersamamu berdiri (salat) kurang dari dua pertiga malam, seperdua malam, atau sepertiga malam.
Imam Ali as di salah satu peperangan mengatakan: “Semua orang tidur, tetapi Nabi sibuk beribadah. Di antara kami hanya beliaulah yang berdiri di bawah pohon sedang melaksanakan salat dan menangis, hingga waktu subuh.”
Abu Dzar, sosok yang zuhud dan ahli ibadah, menyampaikan: “Di satu malam, aku salat bersama Nabi. Sedemikian rupa beliau berdiri melakukan salat, sampai aku capek dan menyandarkan kepalaku ke dinding.”
Demikianlah salat malam yang mengantarkan Nabi pada maqam mahmûd, yakni kedudukan syafaat. Itulah perintah Allah dalam firman-Nya:
و من الليل فتهجد به نافلة لك عسي أن يبعثك مقاما محمودا
Dan pada sebagian malam hari, bacalah Al-Qur’an (dan kerjakanlah salat) sebagai suatu tugas tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS: al-Isra 79)
Nabi Rahmat
Allah swt berfirman:
و ما أرسلناك الا رحمة للعالمين
Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS: al-Anbiya 107)
Nabi rahmat artinya bahwa beliau tidak pernah marah kepada umat. Khususnya dalam masalah berkaitan dengan bimbingan agama bagi mereka. Dalam riwayat diterangkan bahwa Nabi tidak marah dan tidak terprofokasi oleh sesuatu; beliau adalah orang yang paling lapang dada; dan orang-orang menerima kemurahan hati dan budi pekerti darinya, sehingga beliau menjadi ayah bagi mereka. Semua ungkapan ini artinya bahwa Nabi memiliki kelapangan dada yang sempurna untuk dapat mencerna perkataan umat dan berkesempatan dalam membimbing mereka.
Nabi rahmat artinya bahwa beliau tidak mencela kaum pemuja berhala meskipun mereka menyakitinya. Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk bagi kaumku!”
Ketika mereka berkata kepada Nabi, “Janganlah kamu mencela kaum musyrik!”, beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pengutuk (tukang pencela), tetapi aku diutus sebagai rahmat.”
Pengaruh Nabi (saw) tidak hanya bagi kaum muslimin saja, tetapi beliau diutus sebagai nabi penutup menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan rahmat ini untuk selamanya.
Supel dalam Bergaul
Supel dalam bergaul dengan pola yang khas memiliki arti bagi setiap lapisan. Prilaku khas seorang pemimpin, seorang penceramah, seorang imam salat atau pengusaha dapat menarik simpati masyarakat. Nabi termasuk dalam beribadah pun tidak membuat jemaahnya letih. Tak pernah dengar Nabi berlama-lama dalam salat berjemaah. Namun demikian, beliau pun tidak menyukai dan akan menegur orang yang melaksanakan salat dengan terburu-buru. Diterangkan dalam riwayat bahwa Nabi banyak berzikir, jarang mencela, menyingkat khotbah, tidak merendahkan dan tidak pula angkuh. Beliau duduk bersama janda dan orang miskin, dan memenuhi kebutuhan mereka.
Nabi tidak berharap dihormati orang lain. Sudah tentu Allah menghendaki orang-orang supaya menjaga kehormatan Rasulullah, namun beliau tidak terikat dengan penghormatan-penghormatan yang formal. Nabi tidak suka, orang berdiri atasnya (ketika melihat beliau datang). Nabi menciptakan penuh rasa cinta di masyarakat. Diriwayatkan; “Tiada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah.” Dan, “Mereka apabila melihat Nabi (datang), mereka tidak akan bangun terhadapnya. Karena mereka mengetahui bahwa hal itu tidak disukai olehnya.”
Satu misal menarik tentang kesupelan dalam bermasyarakat, ialah di saat Nabi melaksanakan salat, terdengar suara tangis anak-anak. Maka beliau membaca surat pendek supaya rampung salatnya. Nabi ditanya sebabnya, dan beliau menjawab: “Seandainya aku memanjangkan salat, akan membuyarkan konsentrasi ibunya; aku khawatir demikian itu akan menyusahkan kedua orangtuanya.”
Nabi mencari orang yang paling lemah; di Madinah ada seorang wanita kulit hitam yang melaksanakan tugas-tugas masjid. Sudah beberapa hari beliau tidak mengetahui kabarnya. Nabi mencarinya. Kata mereka, “Ia meninggal dunia”
Nabi berkata, “Apakah kalian tidak menyakiti aku dengan tidak memberi kabar tentang dia kepadaku!” Orang-orang telah mengira wanita itu tak ada istimewanya, sehingga mereka tidak perlu memberitahu soal dirinya kepada Rasulullah. Beliau berkata, “Sekarang tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukinya. Nabi pergi ke kuburannya dan mengucapkan salam kepadanya, lalu berkata, “Kuburan ini diliputi kegelapan bagi para penghuninya dan Allah akan meneranginya bagi mereka dengan salamku kepada mereka.”
Salah satu perkara yang sangat penting ialah menghapus buruk sangka dari masyarakat sehubungan dengan diri mereka. Pada hari-hari terakhir Nabi, beliau menyampaikan pesan kepada umat, sampai mereka mengira beliau akan menyia-nyiakan dan mengambil hak mereka. Inilah buruk sangka umat. Misal lainnya, Shafiyah menyampaikan bahwa Rasulullah sedang beritikaf. Pada suatu malam aku mendatanginya, dan aku akan pergi setelah berbicara dengannya. (Ketika itu) Nabi sedang berada di kamar Usamah bin Zaid. Beliau berdiri untuk memelukku, kepergok oleh dua orang Anshar. Ketika mereka melihat Nabi saw, mereka terburu-buru. Nabi berkata kepada mereka, “Shafiyah ini putri Huyay bin Akhtab, isteriku!”
“Subhanallah ya Rasulullah!”, ucap mereka.
Nabi berkata, “Sesungguhnya pengaruh syaitan dalam badan seperti darah dalam saraf. Aku khawatir, terlintas sesuatu di benak kalian dan kalian membayangkan hal yang bukan-bukan.”
Menyikapi Orang Badui
Nabi saw menghadapi sekelompok badui, bukan komunitas Arab. Oleh karena itu beliau harus bersabar dengan sikap merendah. Dalam sebuah riwayat diterangkan; Seorang badui datang dari perjalanan dan tidak tahu apa itu masjid. Tiba-tiba ia kencing di salah satu sudut masjid. Para sahabat geram dan akan menghardiknya. Nabi berkata, “Janganlah kalian menyakiti dia!” Kemudian beliau memanggilnya dan memberitahunya bahwa masjid tempat zikir dan beribadah, bukan tempat untuk hal-hal semacam itu.
Muawiyah bin Hakam menyampaikan: “Ketika aku sedang salat, seseorang bersin. Maka aku ucapkan, “Yarhamukallah! (Semoga Allah merahmatimu)” Orang-orang menoleh kepadaku. Lalu orang itu bersin lagi, dan akupun mengucapkan doa itu. Melihat mereka memandangiku di saat salat, aku bilang kepada mereka, “Semoga ibu kalian berduka atas kalian! Mengapa kalian memandangiku?!” Orang-orang menepuk paha mereka, aku terdiam. Nabi usai salat memanggilku. Aku bersumpah demi ayah dan ibuku, tidak pernah aku melihat seorang guru yang mengajarkan sedemikian baik. Demi Allah, beliau tidak sampai menyinggung perasaanku dan tidak bertindak keras terhadapku. Nabi justru mengatakan, “Salat yang kamu laksanakan ini menjadi sia-sia karena kamu berbicara di dalamnya. Sesungguhnya salat itu adalah tasbih, takbir dan tilawah al-Qur`an.” (Subul al-Huda 7/19)
Dalam sebuah riwayat tentang pola pembimbingan agama oleh Rasulullah; seorang bertanya kepadanya: “Wahai Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila tiba waktu salat sementara aku dalam keadaan junub (apakah kemudian aku akan berpuasa)?”
Nabi menjawab, “Terkadang aku juga mengalami hal demikian, (kemudian aku berpuasa -setelah mandi tentunya,-penerj)”
Orang itu berkata, “Anda bukan seperti kami dan Anda telah diampuni Allah atas dosa yang lalu maupun yang akan datang!”
Beliau berkata, “Demi Allah, aku sungguh berharap untuk menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan menjadi orang yang paling tahu tentang ketakwaan.”
Nabi saw berkata kepada Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari yang pergi ke Yaman: “Permudahlah dan janganlah mempersulit! Sampaikan kegembiraan dan janganlah menimbulkan hal yang tak disukai.”
Sejumlah orang datang ke Madinah untuk bertanya bagaimana Rasulullah melakukan ibadah. Setelah mereka menyimak, mereka merasa bahwa ibadah Rasulullah tidak terlalu banyak. Mereka mengatakan: “Dia itu nabi, dan Allah mengampuninya!”
Seseorang berkata: “Aku beribadah sepanjang malam hingga subuh!”
Yang lain mengatakan: “Aku selalu berpuasa”
Dan yang lain pun mengatakan: “Aku tidak akan menikah!”
Kemudian Nabi saw datang dan berkata kepada mereka, “Kalian telah mengatakan demikian. Sedangkan aku yang paling khusuk dan paling bertakwa dari kalian, aku berpuasa dan kadang tidak. Aku melaksanakan salat, aku tidur dan menikahi wanita. Inilah sunnahku! Siapa yang tidak suka akan sunnahku maka ia bukan dari golonganku.”

Top of Form

Bottom of Form